Jakarta (ANTARA) – Penjualan kendaraan listrik pada tahun 2025 mencapai 175.144 unit, meningkat dari 103.228 unit di tahun 2024, menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) yang diterima pada Jumat.
Data dari industri juga mengungkapkan bahwa pangsa pasar kendaraan listrik, yang meliputi model Hybrid Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Vehicle (PHEV), dan Battery Electric Vehicle (BEV), naik dari 11,9 persen di 2024 menjadi 21,8 persen pada tahun 2025.
Rincian menunjukkan bahwa penjualan HEV meningkat dari 59.903 unit di 2024 menjadi 65.943 unit di 2025. Penjualan PHEV melonjak signifikan dari hanya 136 unit menjadi 5.270 unit, sementara penjualan BEV meningkat dua kali lipat dari 43.188 unit menjadi 103.931 unit.
Selama periode tersebut, pangsa pasar HEV naik dari 6,9 persen menjadi 8,2 persen dan pangsa pasar BEV mengalami kenaikan yang signifikan dari 5 persen menjadi 12,9 persen. Pangsa pasar PHEV juga meningkat menjadi 0,7 persen pada tahun 2025.
Penjualan kendaraan listrik di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun, dari hanya 1.324 unit pada 2020 menjadi 175.144 unit pada 2025.
Pangsa pasar kendaraan listrik juga melonjak dari hanya 0,2 persen pada 2020 menjadi 21,8 persen pada tahun 2025.
Sementara itu, penjualan kendaraan dengan mesin pembakaran internal cenderung menurun, meskipun volume penjualannya masih jauh lebih besar dibandingkan dengan kendaraan listrik.
Pada tahun 2025, penjualan kendaraan dengan mesin pembakaran internal tercatat sebanyak 628.543 unit atau 78,2 persen dari total penjualan kendaraan yang mencapai 803.687 unit (wholesale).
Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024, di mana penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal mencapai 762.495 unit atau 88,1 persen dari total penjualan kendaraan.
Pangsa pasar kendaraan dengan mesin pembakaran internal telah berkurang dari 99,8 persen pada 2020 menjadi 78,2 persen pada 2025.
Baca juga: Pemerintah masih mengkaji kebijakan insentif otomotif tahun 2026
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengungkapkan perlunya perusahaan otomotif untuk merevisi strategi pemasaran agar dapat meningkatkan penjualan.
“Strategi marketing harus beralih dari isu lingkungan ke value, bukan hanya fokus pada produk yang canggih,” katanya kepada ANTARA pada Jumat.
Menurutnya, konsumen saat ini lebih mempertimbangkan aspek harga dan nilai saat membeli kendaraan.
Ia juga menambahkan bahwa pelaku industri harus mematuhi ketentuan mengenai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam proses produksi kendaraan.
“Mau tidak mau, mereka harus mencapai ambang batas TKDN minimal 40 persen dan melakukan lokalisasi yang nyata dan cepat, sehingga bisa mengurangi dampak kenaikan PPN 12 persen serta fluktuasi kurs melalui efisiensi rantai pasok dalam negeri,” jelasnya.
Baca juga: Pemilik mobil listrik di Indonesia mayoritas berasal dari kelompok menengah atas
Baca juga: Toyota jadi produsen mobil terlaris di dunia enam tahun berturut-turut
Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026