Roma, Getwebpress.com – Dalam lawatan diplomatiknya di Roma, Italia, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melakukan serangkaian pertemuan penting dengan pemimpin negara sahabat untuk memperkuat dukungan internasional terhadap Ukraina. Sabtu (17/5), Zelenskyy bertemu dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Presiden Swiss Karin Keller-Sutter. Agenda utama pertemuan mencakup upaya perdamaian berkelanjutan, kerja sama pertahanan, serta bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi Ukraina.
Kanada, Sahabat Strategis Ukraina
Pertemuan antara Zelenskyy dan Mark Carney menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan bilateral Ukraina-Kanada, terutama di tengah invasi berkepanjangan yang dilakukan Rusia terhadap wilayah Ukraina sejak 2022. Dalam pernyataannya di platform X (sebelumnya Twitter), Zelenskyy menyebut Kanada sebagai “sahabat sejati Ukraina” yang terus memberikan dukungan konsisten di bidang pertahanan, ekonomi, dan kemanusiaan.
“Prioritas utama saat ini adalah menekan Rusia agar mengambil langkah nyata untuk mengakhiri perang,” tulis Zelenskyy, menegaskan urgensi diplomasi keras kepada Moskow.
Dalam diskusi bilateral tersebut, kedua pemimpin membahas berbagai langkah strategis, termasuk penerapan sanksi ekonomi tambahan terhadap Rusia. Hal ini mencakup sanksi sekunder terhadap entitas yang mendukung agresi militer Rusia secara tidak langsung, serta hukuman terhadap “armada bayangan” Rusia — istilah yang merujuk pada kapal-kapal dagang dan militer yang digunakan untuk menghindari deteksi dan sanksi internasional.
Tak hanya itu, isu terkait keamanan energi menjadi salah satu perhatian utama. Ukraina dan Kanada sepakat bahwa Rusia telah lama menggunakan energi sebagai senjata geopolitik, dan karena itu perlu langkah tegas untuk membatasi pengaruh ekonomi Moskow di sektor ini.
Kerja Sama Pertahanan: Koalisi Internasional Diperluas
Zelenskyy dan Carney juga meninjau perkembangan kerja sama militer, termasuk dukungan terhadap sistem pertahanan udara Ukraina, pelatihan militer, serta pengembangan koalisi negara-negara pendukung Ukraina dalam menghadapi agresi Rusia.
“Kita tidak akan bisa memenangkan perdamaian tanpa pertahanan yang kuat,” ujar Zelenskyy dalam pernyataan resmi.
Kanada merupakan salah satu negara NATO yang aktif mendukung Ukraina dengan pengiriman peralatan militer, kendaraan lapis baja, amunisi, hingga pelatihan taktis untuk pasukan Ukraina. Komitmen tersebut dipandang vital bagi Ukraina yang terus menghadapi serangan rudal dan drone dari Rusia, terutama terhadap infrastruktur sipil dan energi.
Zelenskyy menyambut baik undangan dari Kanada untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 mendatang. Ia menyatakan harapannya untuk bertemu kembali dengan PM Carney di Kiev dalam waktu dekat, sebagai bentuk penguatan hubungan diplomatik langsung di jantung konflik.
Pertemuan dengan Swiss: Fokus pada Rekonstruksi dan Bantuan Kemanusiaan
Dalam lawatannya di Roma, Zelenskyy juga mengadakan pertemuan dengan Presiden Swiss Karin Keller-Sutter, menyoroti pentingnya keterlibatan negara-negara netral dalam membantu pemulihan pascakonflik di Ukraina. Swiss dikenal sebagai negara yang menjaga posisi netral secara historis, namun tetap aktif dalam urusan kemanusiaan global.
Pertemuan tersebut membahas berbagai aspek pemulihan pascaperang, mulai dari rekonstruksi infrastruktur vital, keselamatan sekolah, hingga kegiatan pembersihan ranjau di wilayah yang sebelumnya dikuasai atau dibombardir oleh Rusia.
Zelenskyy menekankan pentingnya gencatan senjata dan peningkatan tekanan internasional terhadap Rusia agar menghentikan serangan yang terus menelan korban jiwa dan menghancurkan fasilitas publik.
“Kami berbicara soal pentingnya program makanan sekolah, pembangunan tempat perlindungan di sekolah, serta perlindungan bagi anak-anak di tengah ancaman militer yang terus berlangsung,” ungkap Zelenskyy.
Swiss juga disebut akan berkontribusi dalam program pembangunan tempat perlindungan darurat di sekolah-sekolah Ukraina, terutama di wilayah rawan serangan udara. Program ini sejalan dengan misi UNICEF dan organisasi kemanusiaan lainnya yang telah beroperasi di Ukraina sejak awal invasi.
Rekonstruksi Ukraina: Tantangan dan Harapan
Ukraina menghadapi tantangan luar biasa dalam memulihkan negaranya yang rusak parah akibat perang. Menurut data Bank Dunia dan PBB, nilai kerusakan akibat invasi Rusia mencapai lebih dari US$ 411 miliar hingga pertengahan 2024. Upaya rekonstruksi memerlukan kerja sama internasional yang sistematis, transparan, dan jangka panjang.
Dalam konteks ini, Zelenskyy terus menggandeng mitra global, termasuk negara-negara G7, Uni Eropa, serta negara nonblok seperti Swiss, untuk berpartisipasi dalam platform dukungan internasional untuk rekonstruksi Ukraina. Pendanaan, transfer teknologi, dan tenaga ahli menjadi komponen penting dalam rencana pemulihan nasional.
Diplomasi Agresif sebagai Senjata Baru
Seiring perang yang masih berlangsung di front timur dan selatan Ukraina, strategi pemerintahan Zelenskyy tak hanya bersandar pada kekuatan militer, tapi juga pada kekuatan diplomasi. Dengan menggencarkan kunjungan luar negeri, menjalin aliansi pertahanan, serta membangun dukungan di forum-forum internasional, Zelenskyy berupaya menciptakan tekanan global yang semakin terfokus terhadap Rusia.
Dalam enam bulan terakhir, Zelenskyy telah bertemu dengan lebih dari 20 pemimpin dunia, berbicara di forum seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), KTT Davos, hingga Parlemen Eropa, dan secara aktif mendorong pencapaian perdamaian dengan pendekatan berbasis keadilan internasional.
“Perdamaian tidak akan datang dari kelemahan, tetapi dari kekuatan dan solidaritas global,” tegasnya.
Respons Dunia Internasional
Langkah diplomatik Zelenskyy mendapat respons positif dari banyak pemimpin dunia. Kanada dan Swiss secara terbuka menegaskan dukungan mereka terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina. Di sisi lain, negara-negara seperti Prancis, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat juga memperkuat komitmen dalam bentuk bantuan militer, keuangan, serta dukungan diplomatik.
Sementara itu, Rusia menolak upaya Zelenskyy yang dinilai terlalu berpihak pada blok Barat. Pemerintah Moskow tetap menyalahkan NATO atas eskalasi konflik dan menyebut bahwa dialog damai harus berdasarkan pengakuan terhadap “realitas baru” di wilayah Ukraina timur yang dikuasai pasukan pro-Rusia.