Trump Sebut Gencatan Senjata Gaza Bisa Tercapai Pekan Depan, Ini Syarat dari Hamas

blank
Trump Sebut Gencatan Senjata Gaza Bisa Tercapai Pekan Depan, Ini Syarat dari Hamas
Presiden Amerika Serikat Donald Trump

Washington, D.C., Getwebpress.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza berpeluang besar tercapai dalam waktu dekat, bahkan bisa dimulai secepatnya pekan depan. Hal ini diungkapkan Trump dalam pernyataannya kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One, mengutip laporan media internasional seperti Arab News.

Menurut Trump, kelompok perlawanan Palestina, Hamas, telah menunjukkan respon yang positif terhadap usulan gencatan senjata yang difasilitasi oleh Amerika Serikat bersama mediator dari Mesir dan Qatar.

“Kesepakatan gencatan senjata di Gaza bisa saja terjadi pekan depan,” ujar Trump, tanpa merinci lebih lanjut isi dari proposal tersebut.

Namun, dia menambahkan bahwa dirinya belum menerima laporan terbaru mengenai perkembangan terakhir dari proses perundingan yang tengah berlangsung.

Hamas Siap Negosiasi, Ajukan Dua Syarat Utama

Sumber dari pejabat tinggi Hamas menyebut bahwa pihaknya “sepenuhnya siap” untuk memulai perundingan pelaksanaan gencatan senjata. Namun, mereka juga mengajukan dua syarat utama agar perjanjian damai tersebut bisa diwujudkan:

  1. Penarikan penuh pasukan militer Israel dari wilayah Gaza

  2. Gencatan senjata permanen, bukan hanya sementara

Mereka juga menegaskan bahwa langkah konkret harus segera diambil agar krisis kemanusiaan yang berlangsung sejak akhir tahun lalu dapat segera dihentikan.

Trump: Gencatan Senjata Bisa Berlaku 60 Hari dan Diperpanjang

Dalam pernyataannya, Trump mengungkapkan bahwa kesepakatan yang diusulkan memiliki durasi awal 60 hari, namun masih bisa diperpanjang jika situasi dan proses negosiasi memungkinkan.

“Kita ingin memastikan adanya ruang diplomasi dan waktu yang cukup untuk menyusun solusi jangka panjang,” ucap Trump dalam keterangannya kepada jurnalis.

Kekerasan di Gaza Masih Berlanjut, Korban Sipil Terus Bertambah

Meski ada optimisme terhadap peluang perdamaian, situasi di lapangan masih sangat mencekam. Menurut laporan Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, setidaknya 20 warga Palestina tewas saat tengah mencoba mengakses bantuan kemanusiaan pada Jumat lalu.

Sementara itu, PBB mengungkapkan bahwa dalam satu bulan terakhir, sudah 613 warga Palestina terbunuh saat mereka sedang berupaya mencari makanan dan bantuan logistik di tengah konflik bersenjata.

Serangan udara terbaru Israel di kawasan Muwasi, Gaza, juga menewaskan 15 orang, termasuk 8 perempuan dan 1 anak-anak, menurut laporan tim medis rumah sakit setempat. Militer Israel mengatakan tengah menyelidiki insiden tersebut.

Latar Belakang Konflik: Perang Meletus Sejak Oktober 2023

Konflik berskala besar di Gaza meletus pada 7 Oktober 2023, saat kelompok bersenjata Hamas melakukan serangan mendadak ke wilayah Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang lainnya.

Israel merespons serangan tersebut dengan operasi militer besar-besaran ke Jalur Gaza, yang hingga kini masih berlangsung. Otoritas kesehatan Gaza menyebut bahwa lebih dari 57.000 warga Palestina telah tewas akibat serangan balasan militer Israel, termasuk ribuan perempuan dan anak-anak.

Israel Dihadapkan pada Tuntutan Hukum Internasional

Aksi brutal Israel dalam perang Gaza menuai kecaman global. Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Selain itu, Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ), menyusul tuduhan bahwa operasi militer mereka menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil secara sistematis.

Reaksi Dunia Internasional: Desakan Gencatan Senjata Terus Menguat

Banyak negara dan organisasi internasional mendesak agar Israel dan Hamas segera menghentikan permusuhan dan membuka akses kemanusiaan. Komunitas internasional, termasuk negara-negara anggota OKI, Uni Eropa, hingga Vatikan, telah menyerukan adanya penghentian kekerasan dan dimulainya dialog damai yang adil dan berkelanjutan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Sekjen PBB Antonio Guterres termasuk di antara pemimpin dunia yang secara terbuka meminta semua pihak untuk menyetujui gencatan senjata sesegera mungkin guna menghindari lebih banyak korban sipil.