Daerah  

Terungkap! 5 Modus Psikologis Pelaku Scam Menurut OJK Kalteng

blank
Terungkap! 5 Modus Psikologis Pelaku Scam Menurut OJK Kalteng

Lima Modus Psikologis Penipuan yang Harus Diwaspadai

Yogyakarta (ANTARA) – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, memaparkan lima modus psikologis yang sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan penipuan atau scam untuk memanipulasi korban. Dalam kegiatan media update dan sosialisasi Indonesia Anti-Scam Center (IASC) bersama insan pers Se-Kalimantan di Yogyakarta, Selasa, Primandanu menekankan pentingnya meningkatkan kewaspadaan masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa pelaku scam tidak hanya memanfaatkan teknologi, tetapi juga mengeksploitasi sisi psikologis korban. Berikut adalah lima modus yang sering digunakan:

  1. Ketidaktahuan Korban
    Pelaku sering berpura-pura menjadi petugas resmi, seperti aparat pajak atau kepolisian. Korban yang tidak memahami prosedur resmi sering kali langsung percaya. “Mereka mudah terjebak saat dihubungi pihak yang mengaku sebagai pejabat,” ungkap Primandanu.

  2. Kepanikan atau Ketakutan
    Dalam modus ini, pelaku menyampaikan informasi mendesak yang bersifat emosional, seperti kabar mengenai anggota keluarga yang mengalami kecelakaan. “Korban dalam kondisi panik dapat dengan mudah dipengaruhi untuk mentransfer uang,” jelasnya.

  3. Kesepian
    Modus ini lebih umum pada kasus love scam. Pelaku membangun kedekatan emosional melalui platform digital dan perlahan meminta bantuan finansial. Primandanu mengingatkan agar masyarakat lebih waspada terhadap kemungkinan penipuan di era media sosial, di mana identitas dan foto bisa dimanipulasi dengan mudah.

  4. Keserakahan
    Pelaku sering memanfaatkan keinginan seseorang untuk mendapatkan keuntungan besar dengan modal kecil. Tawaran investasi yang tidak masuk akal atau pinjaman berbunga rendah menjadi umpan menarik bagi korban. “Prinsip dasar keuangan adalah semakin besar imbal hasil, semakin besar pula risikonya,” tambahnya.

  5. Faktor Hiburan
    Pelaku juga memanfaatkan kebutuhan korban akan hiburan atau kesenangan, seperti promo wisata murah atau penawaran barang dengan harga jauh di bawah pasaran. “Harga barang yang seharusnya satu juta dirilis menjadi lima ratus ribu, memberikan kesan ini adalah kesempatan langka,” tutur Primandanu.

OJK Kalteng mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan tidak mudah percaya pada informasi mendesak atau menggiurkan. “Literasi keuangan dan kehati-hatian adalah kunci utama untuk mencegah masyarakat menjadi korban penipuan digital,” tutupnya.

Penutup

Masyarakat diminta untuk selalu melakukan verifikasi sebelum mengambil keputusan finansial, guna melindungi diri dari kemungkinan penipuan di dunia digital yang semakin kompleks.