GAZA, Getwebpress.com – Konflik bersenjata antara Israel dan kelompok pejuang Palestina kembali menelan korban. Seorang tentara Israel tewas di Gaza utara pada Minggu (29/6), akibat ledakan di wilayah Jabalia, sebuah area yang menjadi titik panas dalam operasi militer terbaru Israel.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa korban adalah Sersan Yisrael Natan Rosenfeld, 20 tahun, prajurit dari Batalion Teknik Tempur ke-601 di bawah Brigade ke-401. Ia gugur dalam pertempuran ketika pasukannya menjalankan operasi perobohan bangunan di Gaza utara, sebagai bagian dari upaya Israel membentuk zona penyangga di sepanjang perbatasan Jalur Gaza.
Tentara Israel Tewas di Gaza, Operasi Perluasan Zona Penyangga Masih Berlangsung
Menurut laporan Kan TV, stasiun televisi resmi Israel, ledakan yang menewaskan tentara Israel di Gaza terjadi saat militer sedang melaksanakan misi penghancuran infrastruktur sipil di wilayah padat penduduk. Bangunan-bangunan tersebut dianggap berpotensi digunakan oleh kelompok Hamas untuk menyimpan senjata atau menyerang pasukan Israel.
Langkah ini merupakan bagian dari rencana strategis Israel untuk membentuk zona penyangga—area steril yang diyakini akan meminimalkan ancaman infiltrasi dari wilayah Gaza ke Israel. Zona tersebut diharapkan menjadi lapisan keamanan tambahan di tengah eskalasi konflik yang tak kunjung reda sejak perang pecah pada Oktober 2023.
Hingga kini, operasi tersebut telah memicu pertempuran sengit antara pasukan Israel dan kelompok bersenjata Palestina, yang didominasi oleh Hamas dan Jihad Islam.
Korban Jiwa dari Israel Terus Bertambah
Kematian Rosenfeld menambah daftar panjang korban dari pihak militer Israel. Berdasarkan data resmi yang dirilis otoritas pertahanan Israel, sebanyak 21 tentara Israel tewas di Gaza sepanjang Juni 2025, menjadikan jumlah keseluruhan personel militer yang gugur sejak dimulainya operasi militer pada Oktober 2023 mencapai 880 orang.
Peningkatan jumlah korban ini memicu kekhawatiran baru di dalam negeri Israel, khususnya terkait durasi dan keberhasilan strategi militer yang dijalankan. Banyak pihak mulai mempertanyakan sejauh mana efektivitas operasi darat di Gaza, terutama mengingat perlawanan dari pejuang Palestina yang tetap intens dan tak terduga.
Korban Sipil Palestina Capai Puluhan Ribu, Dunia Internasional Soroti
Di sisi lain, serangan Israel pada Minggu (29/6) dilaporkan menyebabkan setidaknya 88 warga Palestina tewas dan 365 orang lainnya luka-luka, menurut data dari otoritas kesehatan Gaza. Sebagian besar korban jatuh di wilayah Gaza utara, terutama di Jabalia—tempat terjadinya insiden yang menewaskan tentara Israel di Gaza.
Pihak militer Israel disebut meluncurkan pengeboman udara dan artileri dalam skala besar. Serangan tersebut diklaim sebagai respons terhadap dugaan keberadaan terowongan militan dan posisi tembak Hamas yang menyatu dengan lingkungan sipil.
Lebih mengejutkan, total korban jiwa dari pihak Palestina sejak Oktober 2023 telah mencapai 56.500 orang, menurut otoritas kesehatan Gaza. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, memperkuat kritik dari komunitas internasional terkait proporsi kekerasan dalam operasi militer Israel di wilayah padat penduduk.
Evakuasi Massal Kembali Diumumkan, Gaza Utara dalam Krisis Kemanusiaan
Militer Israel kembali mengeluarkan peringatan evakuasi besar-besaran untuk warga sipil di Kota Gaza dan Jabalia. Warga diminta segera menuju ke wilayah al-Mawasi, sebuah zona yang dianggap lebih aman oleh militer Israel. Namun kenyataannya, al-Mawasi juga telah menjadi lokasi kamp-kamp pengungsian yang penuh sesak dan kekurangan fasilitas dasar.
Evakuasi ini menyulitkan warga Gaza yang telah kehilangan tempat tinggal sejak awal konflik. Ribuan keluarga terpaksa berpindah-pindah tanpa kepastian keamanan, air bersih, dan layanan medis. Laporan dari berbagai lembaga kemanusiaan menyebutkan bahwa kondisi krisis kemanusiaan di Gaza kini telah mencapai titik nadir.
Reaksi Dunia: Ketegangan Diplomatik Meningkat
Kematian seorang tentara Israel di Gaza dan eskalasi kekerasan terbaru langsung memicu reaksi dari berbagai pihak internasional. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres kembali menyerukan gencatan senjata kemanusiaan dan menekankan perlunya pembukaan koridor bantuan secara permanen.
Sementara itu, negara-negara seperti Mesir, Turki, dan Qatar mendesak kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan. Namun hingga kini, tidak ada sinyal kuat dari baik Israel maupun Hamas untuk menghentikan pertempuran.
Ketegangan Internal di Israel Meningkat
Di dalam negeri, tekanan politik terhadap pemerintahan PM Benjamin Netanyahu terus meningkat. Oposisi menuduh pemerintah gagal menetapkan batas waktu dan tujuan yang jelas dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari delapan bulan ini.
Keluarga-keluarga tentara yang gugur, termasuk keluarga Rosenfeld, mulai menuntut transparansi dan kejelasan misi. Mereka ingin tahu sampai kapan putra-putra mereka akan dikirim ke medan perang yang semakin brutal, sementara hasilnya masih belum tampak nyata.