Serangan Israel Hancurkan RS Indonesia di Gaza

55 Orang Terjebak, Dunia Internasional Didesak Bertindak

blank
Serangan Israel Hancurkan RS Indonesia di Gaza
Kondisi Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara di tengah serangan pasukan Zionis Israel.

Gaza, Getwebpress.com – Konflik di Jalur Gaza kembali mencapai titik tragis setelah Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melancarkan serangan terhadap Rumah Sakit Indonesia yang terletak di wilayah utara Gaza. Rumah sakit yang dikenal sebagai simbol solidaritas Indonesia terhadap rakyat Palestina itu kini berada di ambang kehancuran, dengan sedikitnya 55 orang dilaporkan masih terjebak di dalam gedung, termasuk dokter dan perawat.

Serangan terhadap fasilitas medis ini memicu kemarahan dunia internasional dan menjadi sorotan media global, termasuk laporan mendalam dari Al Jazeera yang menyebut bahwa RS Indonesia merupakan fasilitas medis terakhir yang masih berfungsi di Gaza utara.

RS Indonesia Jadi Sasaran Serangan, Tembok Dihancurkan dengan Buldoser

Menurut laporan eksklusif dari Al Jazeera, militer Israel menyerang area gerbang depan rumah sakit sebelum menghancurkan tembok bagian utara menggunakan buldoser tempur. Suasana mencekam diselimuti bunyi tembakan senjata api yang terdengar dari berbagai arah di sekitar rumah sakit.

Sebanyak 55 orang dilaporkan masih berada di dalam fasilitas tersebut, termasuk empat dokter dan delapan perawat yang tetap bertahan untuk merawat pasien-pasien luka berat akibat eskalasi serangan Israel dalam beberapa pekan terakhir.

“Pasukan Israel mengepung rumah sakit, menembaki area sekitar, dan merobohkan temboknya dengan buldoser. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum internasional, ini kejahatan terhadap kemanusiaan,” ungkap koresponden Al Jazeera dalam laporannya.

RS Indonesia telah lama menjadi simbol persahabatan rakyat Indonesia terhadap perjuangan kemanusiaan di Palestina, dan pembangunannya dibiayai sepenuhnya oleh donasi masyarakat Indonesia melalui lembaga kemanusiaan.

RS Indonesia: Simbol Solidaritas yang Kini Digempur

Diresmikan pada tahun 2016, Rumah Sakit Indonesia di Gaza dibangun oleh MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) bekerja sama dengan pemerintah Palestina dan berbagai pihak lokal. Fasilitas ini merupakan salah satu dari sedikit rumah sakit di Gaza utara yang menyediakan layanan medis lengkap, termasuk ruang bedah, ICU, dan ruang bersalin.

Sejak dimulainya agresi militer Israel pada akhir 2023, RS Indonesia menjadi garda terakhir penanganan korban luka-luka, terutama anak-anak dan perempuan. Situasi ini semakin memburuk sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas resmi berakhir pada 1 Maret 2025, dan upaya diplomatik gagal meredakan konflik.

Netanyahu: Serangan Dilanjutkan karena Hamas Tolak Proposal Gencatan Senjata

Dalam pernyataannya pada 18 Maret 2025, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa serangan akan terus berlanjut karena Hamas menolak rencana perpanjangan gencatan senjata yang diusulkan oleh Amerika Serikat, termasuk pembebasan sandera.

“Selama Hamas tidak menunjukkan komitmen untuk menerima proposal damai, kami akan terus bertindak demi keamanan nasional Israel,” ujar Netanyahu.

Namun, langkah Israel yang menyasar rumah sakit dan infrastruktur sipil kembali menimbulkan pertanyaan besar tentang proporsionalitas serangan dan kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional.

Situasi Kemanusiaan di Gaza Memburuk: Listrik dan Bantuan Diblokade

Serangan terhadap RS Indonesia terjadi dalam situasi yang semakin mengerikan bagi warga Gaza. Israel telah memutus pasokan listrik ke fasilitas desalinasi, yang selama ini menyediakan air bersih untuk ratusan ribu warga Gaza.

Selain itu, akses truk bantuan kemanusiaan juga ditutup, menyebabkan kelangkaan makanan, air, dan obat-obatan. Laporan dari organisasi kemanusiaan menyebut bahwa lebih dari 70 persen fasilitas kesehatan di Gaza kini tak lagi beroperasi akibat serangan atau kekurangan pasokan.

“Apa yang terjadi di Gaza bukan sekadar konflik militer, ini sudah menjurus ke bencana kemanusiaan,” kata Dr. Fadi Abu Shammala, Direktur Palestine Relief Foundation.

Dunia Internasional Diminta Bertindak Tegas

Reaksi dari berbagai pemimpin dunia mulai bermunculan, namun belum ada langkah konkret yang bisa menghentikan agresi. Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengecam keras serangan terhadap RS Indonesia dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera turun tangan.

“Serangan terhadap rumah sakit jelas melanggar Konvensi Jenewa. Indonesia mengecam keras tindakan ini dan mendesak komunitas internasional untuk bertindak,” ujar juru bicara Kemenlu RI dalam pernyataan resmi.

Pakar hukum internasional menilai bahwa tindakan Israel menyerang rumah sakit yang diketahui memiliki fungsi sipil bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang.

“Sasarannya adalah rumah sakit yang aktif melayani korban perang. Menurut hukum internasional, itu sama sekali tidak bisa dibenarkan,” ujar Prof. Rami Barakat, dosen hukum di Universitas Oxford.

HAM dan Pelanggaran Hukum Internasional

Konflik Israel-Palestina telah lama disorot sebagai salah satu krisis terburuk dalam sejarah modern, dan setiap eskalasi baru selalu memicu ketegangan global. Namun kali ini, serangan terhadap RS Indonesia menandai puncak pelanggaran kemanusiaan yang sangat serius.

Human Rights Watch (HRW) dan Amnesty International telah mengeluarkan pernyataan bersama yang menyebut bahwa serangan terhadap fasilitas kesehatan bisa dikenai sanksi internasional dan diinvestigasi oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

“Kami menuntut investigasi segera terhadap serangan terhadap RS Indonesia di Gaza. Dunia tidak boleh diam ketika nyawa warga sipil dan tenaga medis berada dalam bahaya,” bunyi pernyataan resmi HRW.

Suara dari Warga Gaza: Bertahan di Tengah Kepungan

Wartawan lokal yang masih bisa mengakses informasi dari dalam Gaza menyebut bahwa para tenaga medis di RS Indonesia menolak meninggalkan pasien mereka, meskipun mereka tahu risiko nyawa.

“Mereka bisa saja melarikan diri, tapi mereka tidak mau meninggalkan pasien. Ini adalah bentuk pengabdian yang luar biasa,” ujar Firas Abu Daqqa, jurnalis lepas dari Gaza.

Beberapa keluarga pasien yang berhasil dievakuasi menyebut bahwa rumah sakit tersebut adalah “tempat terakhir harapan” karena semua fasilitas kesehatan lain sudah tak bisa beroperasi akibat serangan.

Apa Dampaknya Bagi Hubungan Internasional?

Serangan terhadap RS Indonesia dapat memiliki implikasi diplomatik yang serius. Hubungan bilateral Indonesia-Israel memang tidak formal, tetapi sebagai negara demokratis terbesar di dunia Islam, Indonesia memiliki posisi moral dan politik yang penting di panggung internasional.

Jika tidak ada tanggapan keras dari komunitas global, kredibilitas lembaga-lembaga internasional seperti PBB, WHO, dan Dewan Hak Asasi Manusia PBB bisa diragukan.

Indonesia dan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) diperkirakan akan menggelar pertemuan darurat untuk merespons situasi ini.