Sekjen PBB Kecam Keras Serangan Mematikan Israel ke Gereja di Gaza

Serukan Gencatan Senjata dan Lindungi Warga Sipil

blank
Sekjen PBB Kecam Keras Serangan Mematikan Israel ke Gereja di Gaza
Warga Palestina membawa jenazah korban serangan drone Israel di Gereja Keluarga Kudus, di Rumah Sakit Baptis di Kota Gaza, pada 17 Juli 2025.

New York, Getwebpress.com – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, mengecam keras serangan mematikan yang dilancarkan Israel terhadap Gereja Keluarga Kudus di Gaza. Gereja tersebut diketahui menjadi tempat perlindungan bagi warga sipil di tengah konflik yang terus berkecamuk di Jalur Gaza.

Kecaman itu disampaikan oleh juru bicara associate Sekjen PBB, Stephanie Tremblay, dalam konferensi pers di Markas Besar PBB pada Kamis (17/7/2025) waktu setempat.

“Serangan terhadap tempat ibadah tidak dapat diterima. Orang-orang yang mencari perlindungan harus dihormati dan dilindungi, bukan diserang,” tegas Tremblay menegaskan pesan Sekjen PBB.

Guterres, kata Tremblay, juga menyerukan kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk mematuhi hukum internasional dengan memastikan perlindungan terhadap warga sipil. Ia juga menekankan pentingnya menghormati hak-hak mereka yang mencari tempat aman dari gempuran serangan.

Seruan Mendesak Gencatan Senjata dan Bebaskan Sandera

Guterres kembali menegaskan perlunya gencatan senjata segera di Gaza sebagai langkah awal untuk menghentikan pertumpahan darah yang telah menelan ribuan korban jiwa. Selain itu, ia mendesak agar semua sandera yang masih ditahan dibebaskan tanpa syarat.

“Sudah terlalu banyak nyawa yang melayang. Kebutuhan akan gencatan senjata segera semakin mendesak,” ujar Tremblay mewakili Guterres.

Menurutnya, konflik yang tak kunjung berakhir ini telah memperburuk kondisi kemanusiaan di Gaza. Guterres menyoroti pentingnya membuka akses bantuan kemanusiaan dalam skala besar ke wilayah Gaza untuk menyelamatkan jutaan warga yang terjebak dalam krisis berkepanjangan.

Situasi Kemanusiaan Gaza Kian Memburuk

Laporan terbaru dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Rabu (16/7/2025) mengungkapkan kondisi mengkhawatirkan yang terus memburuk di Gaza. Dalam 24 jam terakhir, serangan Israel telah menghantam sejumlah lokasi yang menjadi tempat pengungsian warga Palestina, menyebabkan korban luka dan meninggal dunia.

OCHA mencatat bahwa antara 8 hingga 15 Juli, lebih dari 11.600 warga Gaza terpaksa mengungsi kembali, menambah panjang daftar pengungsi sejak berakhirnya gencatan senjata pada 18 Maret lalu. Kini, total pengungsi di Gaza telah mencapai lebih dari 737.000 orang, atau sekitar 35% dari total populasi Gaza.

“Hampir seluruh penduduk Gaza telah mengalami pengungsian, bahkan dalam banyak kasus mereka terpaksa mengungsi berulang kali,” ungkap laporan OCHA.

Lebih dari itu, sebagian besar rumah di Gaza kini rata dengan tanah atau tidak lagi layak huni. Banyak keluarga yang terpaksa tinggal di tempat terbuka tanpa perlindungan memadai, membuat mereka rentan terhadap cuaca ekstrem dan serangan lanjutan.

Akses ke Laut Mediterania Dilarang Israel

Tragisnya, warga Gaza yang selama ini memanfaatkan Laut Mediterania sebagai sumber air bersih alternatif kini tidak lagi bisa mengaksesnya. Pemerintah Israel kembali memberlakukan larangan aktivitas di sepanjang pantai Gaza, termasuk berenang dan memancing.

Padahal, bagi banyak warga Gaza, laut menjadi satu-satunya tempat untuk mandi dan membersihkan diri, mengingat infrastruktur air di Gaza hampir sepenuhnya lumpuh.

“Banyak warga Gaza kini ragu untuk mandi di laut karena larangan yang diberlakukan Israel,” ujar OCHA.

Kondisi ini semakin memperparah penderitaan warga Gaza yang telah kekurangan bahan makanan, air bersih, serta fasilitas sanitasi yang layak.

Krisis Energi Parah: Bahan Bakar Langka, Layanan Kesehatan Lumpuh

Krisis bahan bakar di Gaza juga menjadi sorotan serius OCHA. Jumlah bahan bakar yang diizinkan Israel masuk ke Gaza masih jauh dari mencukupi untuk mengoperasikan layanan-layanan penting, termasuk rumah sakit dan ambulans.

“Hari ini, untuk pertama kalinya dalam lebih dari 135 hari, kami akhirnya diizinkan membawa benzena, bahan bakar penting untuk ambulans dan layanan darurat lainnya,” kata para aktivis kemanusiaan yang dilaporkan OCHA.

Namun demikian, mereka menegaskan bahwa langkah tersebut belum cukup. Aktivis kemanusiaan mendesak agar Israel segera mengizinkan lebih banyak pasokan bahan bakar bensin dan solar untuk masuk ke Gaza secara rutin. Selain itu, mereka meminta agar larangan atas bahan bangunan dicabut untuk memungkinkan rekonstruksi fasilitas umum dan hunian.

“Kehidupan warga Gaza sangat bergantung pada pasokan bahan bakar dan tempat tinggal yang layak,” tegas OCHA.

Desakan Dunia Internasional Meningkat

Kecaman dari Sekjen PBB Guterres ini menjadi satu dari sekian banyak suara dari dunia internasional yang mengutuk agresi Israel ke Gaza, termasuk serangan terhadap tempat-tempat ibadah dan fasilitas sipil lainnya.

Beberapa organisasi hak asasi manusia juga menyerukan penyelidikan internasional atas dugaan kejahatan perang yang dilakukan di Gaza. Mereka menilai, tindakan menyerang tempat ibadah seperti gereja atau masjid adalah pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional.

Israel Dikecam, Dunia Mendesak Penyelesaian Damai

Sementara itu, pemerintah Israel hingga kini belum memberikan keterangan resmi terkait serangan terhadap Gereja Keluarga Kudus di Gaza. Namun, Israel sebelumnya berulang kali menyatakan bahwa operasi militernya ditujukan untuk menghancurkan infrastruktur militan Hamas, yang dituding bersembunyi di area pemukiman sipil.

Pernyataan ini berkali-kali dibantah oleh sejumlah organisasi kemanusiaan yang justru menemukan bahwa korban terbesar dari serangan Israel adalah warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia.

Dunia internasional kini semakin mendesak Israel dan Hamas untuk segera kembali ke meja perundingan guna menghentikan kekerasan yang telah berlangsung lebih dari 21 bulan ini. Sejak awal konflik, pengungsian massal dan kehancuran infrastruktur telah memperparah krisis kemanusiaan di wilayah Gaza.