Jakarta, Getwebpress.com — Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tengah menghadapi gelombang besar perubahan menjelang pelaksanaan Muktamar yang dijadwalkan antara Agustus hingga September 2025. Ketua Majelis Pertimbangan PPP, Muhammad Romahurmuziy atau yang akrab disapa Rommy, secara tegas menyuarakan bahwa partai berlambang Ka’bah itu membutuhkan sosok baru untuk menakhodai kepemimpinan, menyusul kegagalan Plt Ketua Umum (Ketum) Muhamad Mardiono dalam membawa PPP lolos ke DPR RI pada Pemilu 2024.
Dalam pernyataan resminya, Rommy menilai Mardiono gagal mempertahankan eksistensi PPP di Senayan. Ini merupakan momen pertama kali dalam sejarah PPP tidak mendapatkan kursi di DPR sejak partai ini berdiri.
“Bahwa kepemimpinan saat ini sudah gagal mempertahankan PPP di Senayan. Jadi, untuk dimajukan lagi sebagai caketum jelas sudah sangat tidak layak. Hampir seluruh DPW dan DPC sangat setuju dengan hal ini. Sekarang tinggal siapa caketumnya?” tegas Rommy saat diwawancarai, Rabu (14/5/2025).
Kritik Tajam Terhadap Kepemimpinan Mardiono
Menurut Rommy, suara akar rumput dari Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) sudah sangat jelas: mayoritas menyatakan kekecewaan terhadap kepemimpinan Mardiono yang dianggap gagal total. Bagi banyak kader dan pengurus, kehilangan kursi parlemen bukan hanya soal angka, tapi juga menyangkut marwah dan eksistensi partai Islam tertua di Indonesia tersebut.
“Ini adalah alarm keras bagi kita semua. Kekalahan ini bukan kekalahan biasa. Ini pertanda bahwa ada yang salah secara struktural dan strategis dalam kepemimpinan partai,” ujar Rommy.
Rommy, yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PPP, menyatakan bahwa kegagalan PPP di Pemilu 2024 tidak bisa dilepaskan dari lemahnya komunikasi politik, minimnya inovasi kebijakan, serta ketidakmampuan membangun solidaritas internal yang kuat selama masa kepemimpinan Mardiono.
Usulan Buka Peluang dari Luar Partai
Menariknya, Rommy membuka wacana penting dan cukup berani: PPP sebaiknya membuka diri terhadap calon ketua umum dari luar internal partai. Ia menilai sudah saatnya PPP lebih fleksibel dan tidak terjebak pada aturan yang bisa menutup peluang hadirnya pemimpin visioner dari luar struktur partai.
“AD/ART itu bukan kitab suci. Dia bisa diubah tanpa syarat apapun oleh muktamirin sepanjang disetujui mayoritas. Dan berlaku seketika di muktamar,” ujar Rommy, menegaskan bahwa regulasi internal partai seharusnya tidak menjadi penghambat pembaruan.
Pernyataan ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa partai politik tidak boleh menjadi organisasi eksklusif. Dalam kondisi kritis seperti sekarang, PPP membutuhkan pemimpin yang punya legitimasi luas, kemampuan manajerial mumpuni, serta visi besar untuk merekonstruksi citra dan daya tarik partai di mata publik.
Delapan Tokoh Masuk Bursa Caketum PPP
Dalam dinamika menjelang Muktamar, Rommy juga menyebutkan bahwa terdapat sedikitnya delapan nama yang masuk dalam radar sebagai calon ketua umum PPP. Tokoh-tokoh ini berasal dari berbagai latar belakang, baik internal maupun eksternal, dan memiliki profil yang cukup beragam:
-
Sandiaga Uno – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dikenal luas publik, religius, dan memiliki rekam jejak politik kuat.
-
Arwani Thomafi – Politisi senior PPP, loyalis internal yang selama ini aktif membesarkan partai.
-
Taj Yasin Maimoen – Putra almarhum KH Maimoen Zubair, memiliki basis kultural dan religius yang kuat, terutama di kalangan Nahdliyin.
-
Saifullah Yusuf (Gus Ipul) – Wali Kota Pasuruan, tokoh Nahdliyin dengan pengalaman birokrasi dan politik panjang.
-
Dudung Abdurachman – Mantan KSAD, tokoh militer yang memiliki reputasi tegas dan nasionalis.
-
Amran Sulaiman – Pengusaha dan eks Menteri Pertanian, dikenal memiliki jaringan luas di sektor ekonomi dan petani.
-
Marzuki Alie – Mantan Ketua DPR RI, pernah aktif di Partai Demokrat, punya pengalaman legislatif tinggi.
-
Agus Suparmanto – Pengusaha sekaligus eks Menteri Perdagangan.
Rommy menyebut bahwa dinamika komunikasi dengan para tokoh ini sudah mulai terjalin. Ada yang sudah turun langsung ke DPW dan DPC untuk sosialisasi, ada pula yang masih berkonsultasi dengan para ulama dan tokoh senior.
“Ada yang sudah konsolidasi, ada yang baru sowan ke para sesepuh. Bahkan ada yang sudah diunggulkan, tapi masih ditunggu kesediaannya. Intinya, komunikasi itu sudah ada dan cukup intens,” ungkapnya.