Tekno  

Penyerapan Panas Laut Capai Rekor Terbesar Sepanjang Masa, Setara 12 Ledakan Bom Hiroshima Tiap Detik

blank
Penyerapan Panas Laut Capai Rekor Terbesar Sepanjang Masa, Setara 12 Ledakan Bom Hiroshima Tiap Detik

Pada tahun 2025, lautan dunia mencatat tingkat penyerapan panas tertinggi sepanjang sejarah pengamatan modern. Fenomena ini setara dengan energi yang dilepaskan oleh ledakan 12 bom Hiroshima setiap detik selama setahun penuh. Informasi ini berasal dari analisis ilmiah internasional terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences.

Para peneliti memperoleh data kandungan panas tersebut melalui pengolahan data observasi satelit dan pengukuran langsung di lapangan (in-situ). Data yang digunakan dikumpulkan dari berbagai lembaga riset besar dunia, seperti National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat, Copernicus Climate Change Service Uni Eropa, dan Chinese Academy of Sciences.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lautan menyerap sekitar 23 zettajoule panas tambahan pada tahun 2025, mencatat rekor kesembilan berturut-turut sejak pengukuran dimulai pada 1960-an. Sebagai gambaran, satu zettajoule setara dengan 1 triliun miliar joule.

John Abraham, insinyur mekanik dari Universitas St. Thomas sekaligus salah satu penulis studi, menyatakan keprihatinannya. “Tahun lalu merupakan tahun pemanasan global yang luar biasa dan mencemaskan,” ujarnya, dikutip oleh Getwebpress dari Live Science pada Selasa (20/1/2026). Ia menambahkan bahwa 23 zettajoule panas yang terserap lautan setara dengan energi 12 bom Hiroshima yang meledak setiap detik di lautan. Peningkatan ini signifikan dibandingkan tahun 2024, saat lautan menyerap 16 zettajoule panas.

Wilayah lautan dengan peningkatan suhu tertinggi pada tahun 2025 meliputi Atlantik tropis dan Selatan, Laut Mediterania, Samudra Hindia Utara, dan Samudra Selatan.

Para peneliti menjelaskan bahwa lautan dunia menyerap lebih dari 90% panas berlebih yang terperangkap di atmosfer akibat emisi gas rumah kaca. Seiring meningkatnya akumulasi panas di atmosfer, suhu lautan juga naik, sehingga tingkat panas di lautan menjadi indikator terpercaya untuk perubahan iklim jangka panjang.

“Hasil penelitian ini memberikan bukti nyata bahwa sistem iklim sedang mengalami ketidakseimbangan termal dan mengakumulasi panas,” tulis para ilmuwan dalam penelitiannya.

Peningkatan suhu laut berdampak pada frekuensi dan intensitas gelombang panas laut, mengubah pola sirkulasi atmosfer, serta memengaruhi pola curah hujan global. Lautan yang lebih hangat juga berkontribusi pada peningkatan curah hujan global dan memicu badai tropis yang lebih dahsyat. Dalam satu tahun terakhir, suhu global yang meningkat diduga menjadi penyebab berbagai bencana alam seperti Badai Melissa yang melanda Jamaika dan Kuba, hujan monsun lebat di Pakistan, serta banjir besar di Lembah Mississippi Tengah.

“Panas laut terus memberikan dampak signifikan terhadap sistem Bumi,” tutup Abraham.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Getwebpress di GETWEBPRESS.COM.