PBB: Perawatan Ibu dan Anak di Gaza Kian Memburuk, Hanya 5 Rumah Sakit Masih Beroperasi

blank
PBB: Perawatan Ibu dan Anak di Gaza Kian Memburuk, Hanya 5 Rumah Sakit Masih Beroperasi
Seorang anak di Gaza. ANTARA/Xinhua

Gaza, Getwebpress.com – Perawatan maternal atau kesehatan ibu dan bayi di Jalur Gaza semakin memprihatinkan. Di tengah konflik berkepanjangan dan blokade total yang telah berlangsung lebih dari 70 hari, hanya lima rumah sakit yang dilaporkan masih mampu memberikan layanan maternal. Krisis kemanusiaan yang terjadi saat ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur sipil, tetapi juga menempatkan perempuan hamil, bayi, dan anak-anak dalam kondisi yang sangat rentan.

Informasi ini disampaikan oleh Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) dalam laporan terbarunya pada Selasa (13/5/2025), sebagaimana dilansir kantor berita Xinhua. OCHA melaporkan bahwa pasokan medis untuk perawatan ibu dan anak sangat terbatas, dan lebih dari 17.000 ibu hamil serta menyusui kini mengalami kekurangan gizi akut.

Layanan Kesehatan Ibu dan Anak dalam Bahaya

Dalam kondisi normal, perawatan maternal memerlukan fasilitas yang memadai dan dukungan medis yang konsisten. Namun saat ini, menurut OCHA, para bidan di Jalur Gaza harus bekerja dengan peralatan seadanya, tanpa pasokan medis dasar, seperti obat-obatan, antiseptik, atau alat persalinan.

“Situasinya kritis. Mereka bukan hanya kekurangan alat, tetapi juga kekurangan nutrisi, air bersih, dan keamanan untuk menjalankan tugas mereka,” kata seorang pejabat OCHA yang tidak disebutkan namanya dalam laporan tersebut.

Kelima rumah sakit yang masih memberikan perawatan maternal disebut bekerja di luar batas kemampuan, dengan para tenaga medis mengalami tekanan fisik dan emosional karena tingginya jumlah pasien, risiko serangan, dan minimnya dukungan logistik.

Data WHO: Hanya 30 Persen Fasilitas Kesehatan Masih Beroperasi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya merilis laporan bahwa hanya sepertiga dari total 36 rumah sakit di Gaza yang masih beroperasi sebagian, dan bahkan hanya 30 persen pusat layanan kesehatan primer yang tetap buka dalam kapasitas terbatas. Faktor utamanya adalah serangan udara, kekurangan bahan bakar, minimnya tenaga medis, serta kerusakan infrastruktur akibat pertempuran yang terus berlangsung.

“Sebagian besar rumah sakit telah menjadi sasaran serangan atau berada di sekitar zona pertempuran aktif. Para tenaga medis bekerja dalam ketakutan, dengan sumber daya yang sangat terbatas,” ujar WHO dalam pernyataannya awal bulan ini.

Serangan Terhadap Rumah Sakit: Kompleks Medis Nasser Jadi Sasaran

Salah satu insiden yang paling mengguncang komunitas internasional adalah serangan militer Israel terhadap departemen bedah di Kompleks Medis Nasser di Khan Younis. Serangan ini merupakan serangan keempat yang menyasar kompleks tersebut sejak konflik berkecamuk.

Suzanna Tkalec, Wakil Koordinator Kemanusiaan PBB, mengunjungi rumah sakit tersebut bersama tim dari OCHA untuk melihat langsung kondisi di lapangan. Ia menyatakan keterkejutannya atas serangan yang terus berulang terhadap fasilitas kesehatan yang seharusnya dilindungi dalam hukum kemanusiaan internasional.

“Serangan terhadap rumah sakit tidak dapat diterima. Ini adalah pelanggaran terhadap hukum internasional. Fasilitas kesehatan dan para pekerja medis harus dilindungi tanpa syarat,” ujar Tkalec dengan nada tegas.

Blokade 70 Hari: Tak Ada Bantuan yang Masuk

Sejak lebih dari 70 hari terakhir, OCHA mencatat tidak ada bantuan kemanusiaan atau pasokan komersial yang berhasil masuk ke wilayah Gaza. Blokade total yang diberlakukan telah memperparah kelangkaan bahan makanan, air bersih, listrik, serta pasokan medis.

Dalam laporan pada Selasa (13/5), OCHA menyebut bahwa 11 permintaan resmi dari PBB untuk mengatur koordinasi misi kemanusiaan ditanggapi dengan penolakan oleh otoritas Israel. Lima misi ditolak sepenuhnya, termasuk satu misi penting untuk mengambil bahan bakar dari Rafah, yang akan digunakan untuk mendukung operasional rumah sakit, ambulans, dan layanan air bersih.

“Sementara itu, enam misi lainnya, seperti rotasi staf, difasilitasi. Tetapi itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat Gaza,” kata laporan OCHA.

Ancaman UXO dan Pendidikan Darurat untuk Anak-anak

Di tengah kekacauan, anak-anak di Gaza kini dihadapkan dengan bahaya baru: bahan peledak yang belum meledak (unexploded ordnance/UXO). Untuk mengurangi risiko, tim PBB dan mitra kemanusiaannya melakukan edukasi langsung ke masyarakat, khususnya di kawasan Khan Younis, tentang bagaimana mengidentifikasi dan menghindari UXO.

Sementara itu, tim OCHA juga mengunjungi dua sekolah di Deir al Balah, yang sebelumnya menjadi lokasi pengungsian warga, namun baru-baru ini menjadi target serangan udara. Ratusan keluarga yang tinggal di sekolah-sekolah tersebut membutuhkan paket makanan, akses air bersih, toilet, dan tenda darurat, namun stok bantuan sudah hampir habis.

“Kami berusaha menyalurkan apa pun yang tersisa. Tenda sudah tidak tersedia. Permintaan sangat besar, tetapi sumber daya sangat terbatas,” ujar relawan dari organisasi mitra OCHA.

PBB Desak Israel Patuh pada Hukum Internasional

OCHA menegaskan bahwa Israel sebagai kekuatan pendudukan memiliki kewajiban hukum untuk memfasilitasi bantuan kemanusiaan dan menjamin keselamatan warga sipil di wilayah yang mereka kuasai.

“Israel harus mematuhi hukum kemanusiaan internasional. Bantuan harus diizinkan masuk, dan pekerja kemanusiaan harus dijamin keselamatannya dalam menjalankan tugas di seluruh wilayah Gaza,” tegas OCHA dalam pernyataannya.

Krisis Gizi: 17.000 Ibu Hamil dan Menyusui dalam Kondisi Mengkhawatirkan

Salah satu isu paling mendesak yang dihadapi komunitas medis di Gaza saat ini adalah krisis gizi akut. Menurut laporan OCHA, lebih dari 17.000 perempuan hamil dan menyusui mengalami kekurangan gizi, yang sangat membahayakan kesehatan mereka dan bayi yang mereka kandung atau rawat.

Kekurangan gizi ini berdampak langsung terhadap tingkat kelahiran prematur, kematian bayi, serta gangguan pertumbuhan pada anak-anak yang baru lahir.

“Tanpa intervensi segera, kita akan melihat lonjakan angka kematian ibu dan bayi di Gaza. Ini bukan sekadar statistik, ini adalah tragedi kemanusiaan,” ujar seorang pakar kesehatan dari WHO.

Dunia Internasional Harus Bertindak

Berbagai lembaga kemanusiaan mendesak komunitas internasional, termasuk negara-negara anggota PBB, untuk menekan Israel agar mengakhiri blokade dan mengizinkan bantuan masuk ke Gaza. Seruan ini juga mencakup perlindungan terhadap fasilitas kesehatan, pengiriman logistik darurat, dan evakuasi medis bagi mereka yang berada dalam kondisi kritis.

Konflik berkepanjangan dan situasi darurat kemanusiaan di Gaza telah menarik perhatian dunia, namun hingga saat ini belum ada solusi konkret yang bisa menjamin keberlangsungan hidup masyarakat sipil, terutama kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak-anak.