Mayoritas Warga AS Tolak Keterlibatan Militer dalam Konflik Iran-Israel, Ini Alasannya

blank
Mayoritas Warga AS Tolak Keterlibatan Militer dalam Konflik Iran-Israel, Ini Alasannya
Ilustrasi

Washington, D.C., Getwebpress.com – Mayoritas warga Amerika Serikat (AS) menolak keterlibatan militer negaranya dalam konflik yang tengah memanas antara Iran dan Israel. Hal ini terungkap dalam hasil survei terbaru yang dilakukan oleh lembaga jajak pendapat YouGov bekerja sama dengan The Economist, yang dirilis pada pertengahan Juni 2025.

Sebanyak 60 persen responden secara tegas menyatakan bahwa mereka menolak campur tangan militer AS dalam konflik antara kedua negara Timur Tengah tersebut. Sementara itu, hanya 16 persen yang mendukung keterlibatan militer, dan 24 persen lainnya menyatakan belum memiliki sikap atau masih ragu-ragu.

Mayoritas Warga AS Ingin Diplomasi, Bukan Konfrontasi

Temuan menarik lainnya adalah bahwa meskipun sebagian besar warga Amerika menolak aksi militer, mereka tetap mendukung pendekatan diplomatik. Sebanyak 56 persen responden menyatakan mendukung keterlibatan AS dalam perundingan diplomatik dengan Iran, khususnya terkait program nuklir negara tersebut. Hanya 18 persen yang menyatakan menolak diplomasi tersebut, sisanya masih bersikap netral.

Data ini menunjukkan adanya keinginan kuat dari masyarakat Amerika untuk menghindari keterlibatan langsung dalam konflik bersenjata yang berpotensi meluas dan berdampak buruk bagi stabilitas kawasan maupun keamanan global.

Survei YouGov: Dilakukan Setelah Ketegangan Meningkat

Survei dilakukan oleh YouGov pada 13–16 Juni 2025, dengan melibatkan lebih dari 1.500 responden yang mewakili berbagai latar belakang demografis di seluruh wilayah Amerika Serikat. Hasil survei ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah pasca dugaan serangan Israel terhadap fasilitas militer Iran dan reaksi keras dari Teheran.

Sementara itu, portal berita Axios pada Selasa (17/6) melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump—yang tengah mencalonkan diri kembali dalam pemilu mendatang—sedang mempertimbangkan keterlibatan militer AS, termasuk kemungkinan melancarkan serangan ke fasilitas nuklir Iran, terutama pusat pengayaan uranium bawah tanah di Fordow.

Kekhawatiran Warga AS: Perang Baru di Timur Tengah?

Penolakan publik terhadap campur tangan militer mencerminkan kekhawatiran mendalam masyarakat Amerika akan kemungkinan terjadinya perang baru di Timur Tengah, yang berpotensi menyeret AS ke dalam konflik besar dan panjang, seperti yang pernah terjadi di Irak dan Afghanistan.

Sejumlah analis menilai bahwa keterlibatan militer di luar negeri bukan lagi menjadi opsi populer bagi warga AS, apalagi di tengah tekanan domestik seperti inflasi, keamanan siber, hingga krisis kesehatan mental dan imigrasi ilegal.

“Warga Amerika sudah lelah dengan perang yang berkepanjangan. Mereka lebih menginginkan pemimpin yang fokus pada isu dalam negeri, bukan memperluas konflik di luar negeri,” ujar seorang analis kebijakan luar negeri dari Brookings Institution.

Ancaman dari Iran dan Respon Israel

Hubungan antara Iran dan Israel kembali memanas menyusul tuduhan bahwa Iran telah meningkatkan kapasitas pengayaan uranium hingga mendekati level militer. Israel menganggap hal itu sebagai ancaman langsung terhadap eksistensinya, dan telah berulang kali mengindikasikan kesiapan untuk melakukan aksi militer preventif.

Iran, di sisi lain, memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap fasilitas nuklirnya akan dijawab dengan balasan besar-besaran, termasuk kemungkinan menyerang pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Situasi ini menempatkan AS dalam posisi sulit. Di satu sisi, Washington adalah sekutu utama Israel; namun di sisi lain, keterlibatan langsung dalam konflik bisa merusak hubungan diplomatiknya dengan negara-negara Arab dan memicu eskalasi regional.

Pandangan Politik Ikut Mempengaruhi Sikap Warga

Dalam hasil survei YouGov juga ditemukan bahwa sikap politik turut memengaruhi pandangan warga terhadap isu ini. Mayoritas pendukung Partai Demokrat lebih condong menolak keterlibatan militer dan mendukung diplomasi, sedangkan sebagian kecil pendukung Partai Republik mendukung opsi militer sebagai bentuk dukungan terhadap Israel.

Namun secara keseluruhan, sentimen penolakan terhadap keterlibatan militer masih mendominasi di lintas kelompok usia, gender, dan wilayah geografis.

Menjaga Stabilitas Global Tanpa Intervensi Militer

Dengan meningkatnya ketegangan global, masyarakat internasional kini berharap AS bisa berperan sebagai penengah, bukan pemicu konflik. Pendekatan multilateral bersama negara-negara sekutu, diplomasi melalui PBB, serta negosiasi damai dinilai menjadi jalan terbaik untuk meredam konflik yang berpotensi menjadi perang terbuka.

Analis dari Council on Foreign Relations (CFR) menyatakan bahwa “dunia tidak butuh perang baru, melainkan kepemimpinan yang berani memilih jalur damai. AS memiliki kekuatan untuk menjadi contoh.”