Bilbao, Getwebpress.com – Musim 2024/2025 bukanlah perjalanan mulus bagi Manchester United di Premier League. Krisis performa, inkonsistensi di lini tengah hingga masalah cedera telah menyeret Setan Merah ke papan bawah klasemen. Namun, di tengah badai tersebut, muncul satu harapan: final Liga Europa.
Mason Mount, gelandang Manchester United, mengungkapkan keyakinannya bahwa kemenangan di Liga Europa bisa menjadi batu loncatan penting bagi skuad asuhan Erik ten Hag untuk bangkit dan tampil lebih baik di musim depan. Di saat performa domestik mereka mengecewakan, keberhasilan mengangkat trofi Eropa dianggap sebagai cara terbaik untuk menutup musim dengan kepala tegak.
“Kami ingin menutup musim dengan hasil positif. Jika kami bisa memenangkan final Liga Europa, itu akan menjadi fondasi kuat untuk menatap musim depan dengan lebih percaya diri,” ungkap Mount kepada ESPN, Senin (20/5/2025).
MU Terpuruk di Liga Inggris, Berharap Liga Europa Jadi Penyelamat
Musim 2024/2025 merupakan salah satu musim terburuk dalam sejarah Premier League bagi Manchester United. Hingga pekan ke-37, klub asal Old Trafford hanya mampu meraih 39 poin dan menempati peringkat ke-16 klasemen, jauh dari ekspektasi publik maupun manajemen.
Capaian ini menjadi yang terburuk sejak MU terakhir kali terdegradasi pada musim 1973/1974. Bahkan dengan satu laga tersisa, MU dipastikan tidak akan finis lebih tinggi dari posisi ke-14.
Kegagalan bersaing di zona Eropa melalui jalur liga membuat ajang UEFA Europa League menjadi satu-satunya penyelamat musim. Mount dan rekan-rekannya kini menaruh seluruh harapan pada final Liga Europa melawan Tottenham Hotspur yang akan digelar di San Mamés, Bilbao, pada Kamis (22/5/2025) dini hari WIB.
Final Liga Europa: Tiket Liga Champions & Penebusan Dosa
Final ini bukan sekadar tentang trofi. Lebih dari itu, trofi Liga Europa bisa mengantarkan MU kembali ke Liga Champions, kompetisi elite yang sangat penting dari sisi prestise dan finansial. Kemenangan juga akan meredakan tekanan besar terhadap manajemen dan skuad, sekaligus memberi semangat baru jelang musim 2025/2026.
“Kami tahu kami belum tampil cukup baik di liga, tapi Liga Europa menjadi fokus utama kami sekarang. Kami siap memberikan segalanya untuk memenangkan pertandingan ini,” ujar Mount.
Mount menegaskan bahwa kegagalan di liga tidak bisa dihapus, namun kemenangan di Eropa bisa menjadi titik awal pemulihan.
“Kami tidak akan melupakan apa yang terjadi di liga, itu harus menjadi pelajaran besar. Tapi jika kami bisa menutup musim ini dengan trofi, itu akan memberikan momentum luar biasa untuk bangkit,” katanya.
Statistik Kritis: Musim Penuh Luka Bagi Setan Merah
Mari kita tinjau beberapa data mencolok yang menunjukkan betapa beratnya musim ini bagi Manchester United:
-
Kemenangan Terendah dalam Sejarah Premier League: Hanya mencatat 10 kemenangan dari 37 pertandingan.
-
Selisih Gol Minus: MU kebobolan lebih banyak daripada mencetak gol – indikasi lemahnya lini belakang.
-
Cedera Menumpuk: Pemain kunci seperti Lisandro Martínez, Luke Shaw, dan bahkan Mount sendiri sempat absen dalam beberapa periode penting musim ini.
-
Minim Konsistensi Taktik: Erik ten Hag kerap mengubah formasi karena krisis pemain, membuat transisi tim terganggu.
Tak heran bila fans kecewa dan kritik datang bertubi-tubi. Namun, final Liga Europa menjadi peluang mengembalikan kepercayaan publik dan mengamankan masa depan manajer yang terus digoyang isu pemecatan.
Psikologi Pemain: Antara Tekanan dan Motivasi
Menurut psikolog olahraga asal Inggris, Dr. Jordan Griffiths, pertandingan final seperti ini bisa menjadi “reset mental” bagi tim yang terpuruk.
“Satu kemenangan besar dapat mengubah cara tim melihat dirinya sendiri. Bagi MU, trofi Eropa di tengah musim penuh kritik bisa menjadi titik balik mental yang signifikan,” ujarnya kepada BBC Sport.
Griffiths menilai bahwa pemain seperti Mason Mount, yang dikenal sebagai pemimpin positif di ruang ganti, punya peran penting dalam membangkitkan motivasi rekan-rekannya.
Komentar Pemain Lain: Bruno Fernandes hingga Onana
Selain Mount, kapten tim Bruno Fernandes juga menegaskan pentingnya memenangkan final ini:
“Kami tahu ini kesempatan terakhir kami untuk memberikan sesuatu kepada fans. Kami sudah terlalu sering mengecewakan mereka musim ini. Sekarang waktunya bertarung habis-habisan,” tegas Bruno dalam konferensi pers pra-laga.
Kiper Andre Onana pun mengaku siap tampil maksimal:
“Saya datang ke klub ini untuk menang. Musim ini sulit, tapi kami masih punya satu laga besar. Kami siap bertempur,” katanya.
Preview Final: MU vs Tottenham
Pertandingan ini akan menjadi final Liga Europa pertama yang mempertemukan dua tim Inggris sejak Chelsea vs Arsenal pada 2019. Tottenham sendiri tampil luar biasa di bawah pelatih Ange Postecoglou musim ini, dan meski gagal menembus empat besar, performa mereka lebih konsisten dari MU.
Statistik Singkat:
-
Tottenham finis di peringkat 6 Premier League.
-
Harry Kane, pencetak gol utama Spurs, akan menjadi ancaman besar.
-
MU kemungkinan masih tanpa Luke Shaw dan Victor Lindelof karena cedera.
-
Erik ten Hag diprediksi tetap menurunkan trio Mount – Casemiro – Fernandes di lini tengah.
MU harus tampil disiplin, agresif, dan mengurangi kesalahan elementer yang kerap merugikan mereka musim ini.
Apa yang Terjadi Jika MU Gagal?
Kekalahan di final akan menutup musim tanpa trofi dan tanpa tiket Eropa. Ini berarti:
-
Kehilangan pemasukan hingga 70 juta euro dari potensi Liga Champions.
-
Peluang hengkangnya pemain bintang seperti Bruno Fernandes dan Rashford akan meningkat.
-
Tekanan pada Erik ten Hag akan memuncak, dengan potensi pergantian pelatih semakin besar.
-
Sulit menarik pemain berkualitas di bursa transfer musim panas.
Dengan kata lain, hasil final ini bisa menentukan arah klub untuk 2–3 tahun ke depan.
Harapan Fans dan Suporter Global
Suporter MU, yang dikenal fanatik dan loyal, masih berharap timnya bisa bangkit. Di media sosial, tagar #GGMU dan #BELIEVEUNITED kembali menjadi trending jelang laga final.
“Kami kecewa dengan performa liga, tapi satu trofi bisa menyelamatkan musim. Kami ingin trofi Eropa dan tiket UCL. Let’s go United!” tulis akun @reddevil1902 di X (Twitter).