Teheran, Getwebpress.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak. Pemerintah Iran secara tegas menyatakan akan terus melancarkan serangan terhadap Israel sampai rezim Zionis membayar “ganti rugi” atas serangan udara yang dilancarkan pada 13 Juni lalu. Hal ini disampaikan langsung oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada Kamis, 19 Juni 2025.
“Pembalasan terhadap Israel akan terus dilakukan sampai musuh kita dihukum dan ganti rugi kepada Iran dibayar,” demikian kutipan resmi dari pernyataan lembaga tersebut, sebagaimana dilaporkan kantor berita IRNA.
Pernyataan keras ini mengindikasikan bahwa konflik bersenjata antara kedua negara belum akan mereda dalam waktu dekat. Eskalasi yang terjadi bukan hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga mengundang perhatian dunia internasional terhadap potensi perang terbuka antara dua kekuatan regional ini.
Serangan udara yang dilakukan Israel pada Jumat dini hari, 13 Juni 2025, menjadi pemicu utama meledaknya situasi. Menurut laporan media internasional, serangan tersebut ditujukan ke berbagai wilayah strategis di Iran, termasuk Ibu Kota Teheran dan beberapa fasilitas militer serta nuklir penting seperti Natanz dan Fordow.
Dalam serangan itu, dilaporkan beberapa pejabat tinggi militer dan ilmuwan nuklir Iran tewas. Serangan ini dilakukan atas dasar tuduhan bahwa Iran sedang menjalankan program nuklir militer secara rahasia.
Namun, Iran dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Pemerintah Iran mengklaim bahwa program nuklir mereka sepenuhnya bertujuan damai dan diawasi oleh badan internasional.
Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran melancarkan Operasi True Promise 3 pada Jumat malam, beberapa jam setelah serangan Israel. Dalam operasi ini, Iran menyerang sejumlah target militer Israel yang disebutkan berada di wilayah sensitif, meskipun belum dijelaskan secara rinci lokasi-lokasi yang terkena serangan.
Pemerintah Iran menyebut serangan balik ini sebagai bentuk “pembalasan yang sah” atas agresi militer yang dilakukan Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tak tinggal diam. Dalam pidato resminya, Khamenei menyebut bahwa apa yang dilakukan Israel adalah “kejahatan berat” yang akan membawa balasan yang setimpal.
“Israel akan menghadapi nasib yang pahit dan mengerikan,” tegas Khamenei dalam pidatonya di Teheran, seraya menyerukan persatuan nasional dan kesiapan rakyat Iran menghadapi segala bentuk agresi.
Khamenei juga menuding Israel sebagai provokator regional yang selama ini melakukan pelanggaran hukum internasional secara sistematis.
Meskipun Israel mengklaim serangan itu didasarkan pada kekhawatiran akan program nuklir Iran yang disinyalir mengarah ke pengembangan senjata, sejumlah pihak internasional menyebut tidak ada bukti kuat yang mendukung klaim tersebut.
Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, pada 18 Juni 2025 menyatakan bahwa lembaganya belum menemukan indikasi Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.
Senada dengan IAEA, laporan intelijen Amerika Serikat yang dikutip oleh CNN pada Selasa, 17 Juni 2025, menyimpulkan bahwa tidak ada bukti Iran memiliki program senjata nuklir aktif saat ini.
Hal ini menunjukkan bahwa klaim Israel belum sepenuhnya mendapatkan legitimasi internasional, dan justru membuka pertanyaan terkait motif sebenarnya dari serangan udara yang dilancarkan.
Dalam perkembangan terpisah, mantan Duta Besar Inggris untuk Uzbekistan yang juga dikenal sebagai aktivis Hak Asasi Manusia, Craig Murray, menyatakan bahwa Iran telah menunjukkan “tanggung jawab dan kesabaran luar biasa” dalam menghadapi provokasi dari Israel selama beberapa tahun terakhir.
“Iran bisa saja membalas dengan lebih agresif sejak lama, tapi mereka memilih jalan diplomasi hingga titik ini,” ujar Murray dalam wawancaranya dengan RIA Novosti.
Pernyataan ini memperkuat narasi bahwa Iran selama ini mencoba menghindari konflik terbuka, meskipun terus mendapatkan tekanan dari musuh bebuyutannya.