Daerah  

Evakuasi Dramatis di Perairan Aceh: Basarnas Selamatkan ABK Filipina Korban Kecelakaan Kerja di Tengah Laut

ABK MT Chemstran Baltic Alami Cedera di Tengah Laut, Basarnas Banda Aceh Lakukan Aksi Cepat

blank
Evakuasi Dramatis di Perairan Aceh: Basarnas Selamatkan ABK Filipina Korban Kecelakaan Kerja di Tengah Laut

Banda Aceh, Getwebpress.com – Sebuah operasi penyelamatan dramatis dilakukan oleh Badan SAR Nasional (Basarnas) Banda Aceh terhadap seorang anak buah kapal (ABK) asal Filipina, Trimuya Erdaggo Jr (43), yang mengalami kecelakaan kerja di atas kapal tanker berbendera Kepulauan Marshall. Insiden ini terjadi saat kapal tengah berlayar melintasi perairan Selat Benggala menuju Timur Tengah.

Korban mengalami luka serius pada bagian ibu jari tangan kiri akibat tertimpa palu saat sedang bekerja di kapal MT Chemstran Baltic, sebuah kapal tanker kimia yang sedang dalam pelayaran dari Pelabuhan Tanjung Uban menuju Fujairah Point, Uni Emirat Arab.

“Korban terluka akibat kecelakaan kerja dan harus segera dievakuasi untuk mendapat penanganan medis,” ungkap Kepala Basarnas Banda Aceh, Ibnu Harris Al Hussain, dalam keterangan resminya pada Minggu (1/6/2025).

Proses Evakuasi: Dari Koordinasi Cepat hingga Aksi di Laut Lepas

Permintaan evakuasi pertama kali diterima Basarnas pada Sabtu sore (31/5/2025) melalui agen kapal. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim SAR segera mengoordinasikan operasi penyelamatan dengan menggunakan kapal SAR KN Kresna 232, yang diberangkatkan dari Pelabuhan Ulee Lheue, Kota Banda Aceh.

Setelah melakukan koordinasi dengan pihak kapal tanker, disepakati bahwa titik evakuasi berada di perairan Selat Benggala, tepatnya di antara Pulau Aceh (Kabupaten Aceh Besar) dan Pulau Weh (Kota Sabang), berjarak sekitar 6 nautical miles (mil laut) dari Pelabuhan Ulee Lheue.

“Tantangan utama dalam evakuasi di laut lepas adalah cuaca dan gelombang. Untungnya, saat proses berlangsung, kondisi cuaca cukup bersahabat,” kata Ibnu Harris.

KN Kresna 232 bergerak cepat dan berhasil menjangkau titik temu dengan MT Chemstran Baltic. Sebelum proses transfer korban ke kapal SAR, tim medis melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap korban, termasuk pengecekan kesehatan dan kelengkapan dokumen keimigrasian.

Kondisi Korban: Luka Serius tapi Stabil, Langsung Dirujuk ke RSUD Zainoel Abidin

Setelah dinyatakan stabil dan dokumen keimigrasiannya lengkap, Trimuya Erdaggo Jr dipindahkan dari kapal tanker ke KN Kresna 232 dan selanjutnya dibawa ke daratan. Setibanya di Pelabuhan Ulee Lheue, korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zainoel Abidin Banda Aceh menggunakan ambulans.

Dokter di rumah sakit menyatakan bahwa korban menderita cedera jaringan lunak pada ibu jari kiri akibat benturan benda tumpul (palu), dan memerlukan perawatan lanjutan.

“Korban dalam kondisi sadar dan kooperatif. Ia akan mendapatkan tindakan medis untuk mencegah infeksi dan mempercepat pemulihan luka,” kata salah satu tenaga medis di RSUD Zainoel Abidin.

Evakuasi Multinasional: Kerja Sama Basarnas, Karantina, Syahbandar, dan Polisi

Operasi evakuasi ini melibatkan berbagai unsur dari instansi terkait, seperti:

  • Balai Karantina Kesehatan Kelas I Banda Aceh,

  • Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP),

  • Kepolisian Republik Indonesia (Polri),

  • serta mitra kerja Basarnas lainnya di wilayah Banda Aceh.

Kepala Basarnas Banda Aceh menyatakan bahwa seluruh proses berjalan lancar tanpa hambatan berarti, menunjukkan kesiapsiagaan dan kolaborasi antarinstansi dalam menangani situasi darurat kemanusiaan lintas negara.

“Setelah proses evakuasi selesai, operasi SAR kami tutup dan seluruh personel dikembalikan ke satuan masing-masing,” ucap Ibnu Harris menambahkan.

Konteks Maritim: Kapal Tanker MT Chemstran Baltic dan Jalur Strategis Asia-Timur Tengah

Kapal MT Chemstran Baltic merupakan kapal pengangkut bahan kimia berbendera Kepulauan Marshall, yang kerap melintasi jalur pelayaran strategis dari Asia Tenggara menuju wilayah Timur Tengah. Jalur ini termasuk salah satu jalur maritim internasional tersibuk, yang melintasi Selat Malaka, Laut Andaman, dan Laut Arab.

Insiden seperti kecelakaan kerja bukan hal yang jarang di kapal-kapal tanker besar, yang mengangkut muatan berbahaya dan melibatkan pekerjaan fisik berisiko tinggi.

“Kecepatan dalam mengevakuasi ABK yang cedera sangat penting, terutama karena keterbatasan fasilitas medis di atas kapal,” jelas seorang pakar pelayaran dari Universitas Maritim Indonesia.

ABK Asing di Perairan Indonesia: Tanggung Jawab Kemanusiaan dan Prosedur Hukum

Evakuasi ABK asing seperti yang dilakukan terhadap Trimuya Erdaggo Jr menunjukkan bahwa Indonesia tetap memegang komitmen kemanusiaan internasional, meski melibatkan warga negara asing.

Sebelum dipindahkan ke daratan, korban wajib menjalani pemeriksaan karantina kesehatan, termasuk skrining penyakit menular, serta pemeriksaan dokumen keimigrasian untuk memastikan status legal keberadaannya di perairan Indonesia.

“Ini penting untuk memastikan bahwa proses evakuasi tidak menyalahi hukum nasional dan protokol internasional,” kata Kepala Karantina Kesehatan Banda Aceh.

Apresiasi untuk Basarnas: Profesional, Cepat, dan Siap Siaga

Misi penyelamatan ini menjadi bukti nyata profesionalisme dan kesiapsiagaan Basarnas Banda Aceh dalam menanggapi situasi darurat di laut. Dalam konteks geografis seperti Aceh, yang dikelilingi oleh lautan luas dan jalur pelayaran internasional, kesiapan tim SAR menjadi aset strategis nasional.

“Tugas kami bukan hanya menyelamatkan warga Indonesia, tetapi juga siapa pun yang membutuhkan pertolongan di wilayah kedaulatan NKRI,” tutup Ibnu Harris.