Jenewa, Swiss/Getwebpress.com – Di tengah ketegangan geopolitik dan perang dagang yang selama bertahun-tahun mengguncang pasar global, Amerika Serikat (AS) dan China akhirnya mencapai titik terang. Kedua raksasa ekonomi dunia itu menyepakati pengurangan tarif impor secara signifikan selama 90 hari ke depan, setelah melalui perundingan intensif yang berlangsung akhir pekan lalu di Jenewa, Swiss.
Kesepakatan ini diumumkan secara resmi dalam konferensi pers bersama pada Senin (12/5/2025), yang disampaikan oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer. Keduanya menggarisbawahi bahwa kesepakatan ini merupakan hasil dari diplomasi maraton yang akhirnya berbuah manis, membuka peluang pemulihan bagi hubungan dagang bilateral yang selama ini penuh ketegangan.
“Kesepakatan ini adalah hasil dari komitmen kedua negara untuk meredakan ketegangan dan menciptakan iklim perdagangan yang lebih stabil dan adil,” ujar Bessent di hadapan awak media internasional di Jenewa.
Pengurangan Tarif: Angka yang Mencerminkan Kompromi Besar
Sebagai bagian dari kesepakatan ini, pemerintah AS akan memangkas tarif impor atas produk-produk asal China dari 145 persen menjadi 30 persen, sementara pemerintah China berjanji menurunkan tarif atas produk asal AS dari 125 persen menjadi 10 persen. Penyesuaian tarif ini ditargetkan efektif paling lambat pada 14 Mei 2025, menandai perubahan drastis yang belum pernah terjadi sejak eskalasi perang dagang dimulai pada 2018.
Kesepakatan tarif ini akan berlaku selama 90 hari, dengan opsi untuk diperpanjang atau dikaji ulang, tergantung dari hasil evaluasi ekonomi dan politik masing-masing pihak. Meskipun bersifat sementara, langkah ini dinilai sebagai terobosan diplomatik paling signifikan dalam hubungan dagang AS–China selama hampir satu dekade terakhir.
Latar Belakang Konflik Dagang AS–China: Perseteruan Dua Kekuatan Ekonomi
Perang dagang antara AS dan China dimulai secara resmi pada pertengahan tahun 2018 ketika pemerintahan Presiden Donald Trump saat itu memberlakukan tarif tinggi terhadap sejumlah produk impor dari China, dengan alasan ketidakseimbangan neraca perdagangan dan dugaan praktik perdagangan tidak adil.
China kemudian merespons dengan tindakan serupa, memberlakukan tarif balasan terhadap berbagai produk AS, mulai dari kedelai, baja, hingga produk teknologi tinggi. Ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan pelaku ekonomi global, memicu fluktuasi pasar saham, melemahkan nilai tukar mata uang di negara berkembang, serta memperlambat rantai pasok dunia.
Sejak saat itu, berbagai upaya perundingan telah dilakukan, tetapi sebagian besar berakhir buntu. Oleh karena itu, hasil pertemuan di Jenewa kali ini dianggap sebagai momen langka yang membawa harapan nyata bagi deeskalasi konflik ekonomi dua negara adidaya tersebut.
Dampak Kesepakatan bagi Pasar Global dan Dunia Usaha
Langkah pengurangan tarif ini disambut positif oleh para pelaku pasar, investor, dan komunitas bisnis global. Di bursa saham Asia dan Eropa, indeks langsung menunjukkan penguatan, terutama pada sektor manufaktur, teknologi, dan ekspor yang selama ini sangat terdampak oleh tarif tinggi.
Menurut analis ekonomi internasional dari Bloomberg, kesepakatan ini dapat memicu rebound perdagangan global yang sempat terpuruk akibat ketegangan antara dua negara tersebut. Sektor ekspor barang konsumsi, otomotif, dan teknologi diyakini akan menjadi pihak yang paling cepat merespons positif terhadap pengurangan tarif ini.
“Langkah ini membuka jalan bagi peningkatan volume perdagangan lintas batas dan memperkuat sentimen pelaku usaha di tengah gejolak ekonomi global,” kata Elena Marquez, ekonom senior Bloomberg.
Reaksi dari China dan Agenda Jangka Panjang
Meskipun pernyataan resmi lebih banyak disampaikan dari pihak AS, media pemerintah China seperti Xinhua dan People’s Daily turut menyiarkan bahwa pemerintah Beijing menyambut kesepakatan ini sebagai bentuk kerja sama konstruktif yang seharusnya menjadi model dalam hubungan bilateral di masa depan.
China mengisyaratkan bahwa keberlanjutan kesepakatan ini sangat bergantung pada apakah AS akan menunjukkan komitmen nyata terhadap prinsip perdagangan bebas yang adil dan saling menguntungkan.
Beijing juga berharap bahwa dalam 90 hari ke depan, kedua negara dapat membentuk forum dagang tetap yang fokus pada penyelesaian sengketa secara damai dan berdasarkan hukum internasional.
Tantangan Implementasi dan Risiko Politik
Meski disambut optimistis, implementasi dari kesepakatan ini tidak serta merta bebas tantangan. Beberapa analis memperingatkan bahwa 90 hari adalah waktu yang sangat singkat untuk menyelesaikan masalah-masalah struktural yang selama ini menjadi akar konflik.
Salah satu isu krusial yang belum tersentuh dalam kesepakatan ini adalah perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI), transfer teknologi paksa, dan subsidi industri oleh negara. Hal-hal inilah yang menjadi pokok utama dari keluhan AS terhadap praktik ekonomi China.
Di sisi lain, dinamika politik domestik di AS juga dapat memengaruhi masa depan kesepakatan ini. Dengan pemilihan presiden AS yang semakin dekat, keputusan ekonomi dan diplomasi bisa saja berubah sesuai kepentingan politik kandidat yang bertarung.
Pengaruh bagi Negara Berkembang dan Indonesia
Sebagai bagian dari ekonomi global, negara-negara berkembang seperti Indonesia juga ikut merasakan dampak dari ketegangan dagang AS–China. Ketidakpastian perdagangan selama beberapa tahun terakhir membuat banyak eksportir Indonesia harus mencari pasar alternatif atau menghadapi tekanan harga.
Dengan adanya pengurangan tarif ini, diharapkan akan terjadi stabilitas harga komoditas, serta peningkatan permintaan terhadap bahan baku dan barang setengah jadi dari negara-negara ASEAN.
Menteri Perdagangan RI dijadwalkan akan menggelar konferensi pers khusus menanggapi perkembangan ini dan menyampaikan langkah antisipatif pemerintah Indonesia dalam menyambut peluang baru dari stabilisasi dagang AS–China.
Respons Organisasi Internasional: WTO dan IMF Sambut Positif
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyambut baik langkah ini dan menyebutnya sebagai kemenangan diplomasi multilateral. Dalam pernyataan resminya, Direktur Jenderal WTO menyatakan bahwa kesepakatan tersebut menjadi contoh bahwa dialog tetap menjadi jalan terbaik untuk menyelesaikan sengketa dagang antarnegara.
Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) juga menyebut bahwa pengurangan tarif ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,3 persen jika berlangsung lebih dari 90 hari dan diikuti dengan langkah-langkah struktural lanjutan.