Rafah, Getwebpress.com – Situasi kemanusiaan di Gaza kembali memburuk. Sedikitnya 19 warga Palestina dilaporkan tewas setelah ditembaki oleh pasukan Israel saat tengah mengantre bantuan kemanusiaan di wilayah Rafah barat, Jalur Gaza bagian selatan. Insiden memilukan ini menjadi salah satu dari serangkaian tragedi yang menimpa warga sipil dalam beberapa pekan terakhir, di tengah konflik yang terus membara antara Israel dan kelompok Hamas.
Laporan ini pertama kali disampaikan oleh Al Jazeera, mengutip berbagai sumber medis lokal yang menangani para korban. Dikatakan bahwa serangan tersebut terjadi saat warga sipil berkumpul untuk menerima distribusi bantuan pangan dan kebutuhan dasar, yang kini semakin langka di Gaza karena blokade dan pembatasan logistik yang terus berlangsung.
“Akibat penembakan Israel terhadap warga Palestina yang sedang menunggu pendistribusian bantuan kemanusiaan di Rafah barat, sebanyak 19 orang tewas,” ujar salah satu tenaga medis yang tak ingin disebut namanya karena alasan keamanan.
Korban Jiwa Meningkat: 75 Tewas Sejak Akhir Mei di Titik Bantuan
Menurut laporan resmi dari Kementerian Kesehatan Gaza pada Senin, 2 Juni 2025, sebanyak 75 warga Palestina tewas dan lebih dari 400 lainnya luka-luka dalam berbagai insiden serupa yang terjadi di lokasi-lokasi distribusi bantuan sejak akhir Mei.
Insiden-insiden ini terjadi di tengah semakin besarnya kebutuhan bantuan kemanusiaan di Gaza, seiring hancurnya infrastruktur sipil, rumah sakit, dan sistem distribusi pangan akibat serangan udara dan operasi militer Israel yang terus berlanjut sejak Oktober 2023.
Israel Klaim Distribusi Bantuan Disterilisasi dari Hamas, Tapi Realitasnya Berbeda
Pada bulan Mei lalu, pemerintah Israel mengumumkan rencana baru untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan kepada warga Gaza. Dalam pernyataan resminya, Tel Aviv menyatakan bahwa bantuan hanya akan diberikan di wilayah-wilayah yang dianggap steril dari pengaruh kelompok Hamas.
Keputusan ini, menurut pihak Israel, bertujuan untuk mencegah penjarahan dan penyalahgunaan pasokan bantuan oleh kelompok bersenjata, yang dituduh merampas bantuan sebelum sampai ke warga sipil.
Namun, realitas di lapangan berkata lain. Banyak pengamat dan organisasi kemanusiaan internasional menyebut langkah tersebut sebagai bentuk “penghukuman kolektif” terhadap warga Gaza, yang pada dasarnya tidak memiliki tempat aman untuk berlindung dari pertempuran yang terus terjadi.
UNRWA: Distribusi Bantuan Israel Disebut Upaya Pengusiran Warga Palestina
Pernyataan keras datang dari Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, yang mengecam strategi distribusi bantuan Israel. Ia menyebutkan bahwa alih-alih meringankan penderitaan warga sipil, pendekatan militeristik terhadap bantuan justru memperparah krisis dan memicu gelombang pengungsian paksa.
“Distribusi bantuan yang dikontrol secara militer hanya akan mempercepat proses pemindahan paksa warga Palestina dari tanah mereka sendiri,” tegas Lazzarini dalam pernyataan yang dikutip sejumlah media internasional.
Ia juga menambahkan bahwa akses penuh dan aman untuk distribusi bantuan harus dijamin oleh semua pihak, termasuk oleh Israel sebagai kekuatan pendudukan di wilayah tersebut.
Saksi Mata: Warga Tak Bersenjata Jadi Sasaran
Beberapa saksi mata yang berhasil diwawancarai media internasional menggambarkan suasana mencekam ketika penembakan terjadi. Seorang warga bernama Abu Khalid (nama samaran), mengaku menyaksikan langsung ketika pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah kerumunan yang sedang mengantre bantuan makanan.
“Kami tidak membawa senjata, kami hanya ingin membawa pulang makanan untuk keluarga. Tapi tiba-tiba, tembakan datang dari arah utara. Orang-orang langsung berlarian, ada yang terinjak, ada yang jatuh tertembak,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Krisis Kemanusiaan Gaza: Tidak Ada Tempat Aman Lagi
Dengan populasi lebih dari 2 juta orang, sebagian besar warga Gaza kini berada di ambang kelaparan dan hidup tanpa akses air bersih, listrik, dan layanan medis yang memadai. Sejak invasi militer Israel dimulai, lebih dari 35.000 warga Palestina telah tewas — mayoritas adalah perempuan dan anak-anak — menurut data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Gaza.
Rafah, yang sebelumnya menjadi “daerah aman terakhir” di Gaza, kini juga menjadi target serangan. Dengan kondisi pengungsian yang tak manusiawi dan distribusi bantuan yang terganggu oleh militerisasi lokasi, warga sipil Gaza kehilangan semua ruang aman untuk bertahan hidup.
Reaksi Internasional: Seruan Gencatan Senjata dan Investigasi Independen
Sejumlah negara dan organisasi hak asasi manusia menyerukan penyelidikan independen atas insiden penembakan di titik distribusi bantuan. PBB dan organisasi kemanusiaan lainnya menuntut akses tanpa hambatan ke Jalur Gaza, serta perlindungan terhadap warga sipil dan petugas kemanusiaan.
Lembaga seperti Human Rights Watch (HRW) dan Amnesty International juga meminta agar kasus ini dibawa ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sebagai bentuk dugaan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional.